KHASANAH kepenulisan di negeri ini sesungguhnya sudah berusia panjang. Jauh sebelum era modern menyentuh dan merasuki kebudayaan di bumi Nusantara, dunia kepenulisan sudah tumbuh dan berkembang. Bahkan, tak berlebihan untuk menyebutkan bahwa dunia kepenulisan di negeri ini, terutama di Jawa, muncul beriringan dengan tumbuh dan berkembangnya bentuk-bentuk kebudayaan itu sendiri.
Masa
kejayaan Kerajaan Kediri yang berlangsung sejak tahun 928, diakui
sebagai masa-masa suburnya dunia kepenulisan Jawa kuno. Di masa ini
dunia kepenulisan benar-benar telah mendapat tempat yang terhormat. Para
raja yang berkuasa di Kediri, dari masa ke masa, senantiasa memberikan
ruang kreativitas yang luas. Dan, karya-karya yang dihasilkan para
pujangga itu telah dijadikan rujukan atau referensi bagi tatanan
kehidupan.
Setidaknya
ada duapuluh karya buku atau kitab yang populer di masa Kerajaan
Kediri. Keduapuluh buku atau kitab karya para pujangga kenamaan Kediri
masa itu meliputi buku Agastya Parwa, Adi Parwa, Asramawasana Parwa,
Bisma Parwa, Kunjarakarna, Prasthanika Parwa, Mosala Parwa, Swargarohana
Parwa, Sabha Parwa, Udyoga Parwa, Uttara Kanda, Wirata Parwa, Arjuna
Wiwaha, Sumanasantaka, Kresnayana, Smaradhana, Bhomakarya, Bharatayuda,
Hariwangsa dan Gatotkacasraya. Di samping ke-20 buku atau kitab yang
populer ini masih terdapat banyak karya buku lainnya.
Seni wayang atau pewayangan merupakan bentuk kesenian yang populer dan terhormat di
masa itu. Bentuk kesenian wayang ini tumbuh terhormat di dalam
lingkungan istana dan berkembang luas di masyarakat. Kepopuleran seni
wayang itu pun telah mempengaruhi dunia kepenulisan. Dalam berkarya para
pujangga atau penulis masa itu tidak bisa lepas dari seni wayang dengan
beragam kisah serta nilai-nilai filsafat kehidupan di dalamnya. Karena
itu keduapuluh buku atau kitab tersebut seluruhnya berisi tentang
hal-hal yang berhubungan dengan dunia wayang.
Di
masa jayanya, Kerajaan Kediri memiliki puluhan pujangga yang menulis
karya-karya terkemuka. Tapi di antara sekian banyak pujangga atau
penulis itu, hanya beberapa nama saja yang namanya dikenal hingga kini.
Di antaranya Empu Kanwa, Empu Triguna, Empu Manoguna, Empu Dharmaja,
Empu Sedah dan Empu Panuluh.
Arjuna Wiwaha
Salah
satu buku atau kitab karya Empu Kanwa yang sangat populer di zamannya
adalah “Arjuna Wiwaha”. Buku ini berisi tentang kisah cinta yang penuh
tantangan dan ujian antara Arjuna dengan Dewi Supraba. Di dalam buku
berbentuk tembang yang ditulis semasa Kediri diperintah Prabu Airlangga
(1019-1042) ini terurai bagaimana jalinan kidan cinta Arjuna dengan Dewi Supraba itu tidak berlangsung dengan mudah.
Untuk mempersunting Dewi Supraba, Arjuna harus terlebih dulu menjalani laku topo
atau bertapa terlebih dulu di puncak Gunung Indrakila. Untuk menuju ke
puncak Gunung Indrakila saja bukanlah hal yang mudah. Kemudian ketika
bertapa pun beragam godaan berdatangan. Godaan-godaan itu tentu saja
untuk menggagalkan kekhusukan Arjuna dalam bersemedi. Bila Arjuna
berhasil dikalahkan atau terpengaruh dengan godaan-godaan itu maka
semedinya pun gagal. Jika gagal dalam bersemedi, maka sudah dapat
dipastikan niatnya untuk mempersunting Dewi Supraba pun tidak
kesampaian.
Arjuna
berhasil melawan godaan-godaan itu, sehingga ia berhasil menyelesaikan
semedinya. Akan tetapi ujian baginya belum berakhir di situ. Ujian
berikutnya adalah tantangan dari Prabu Nirwatakawaca, raja raksasa yang
terkenal sakti mandraguna. Tapi Arjuna pantang menyerah. Cinta telah
membakar semangatnya untuk mengalahkan sang raja raksasa itu. Cinta
telah menumbuhkan kekuatan yang maha dahsyat dalam dirinya. Kekuatan itu
telah mampu mengalahkan Prabu Nirwatakawaca yang kesaktiannya sangat
ditakuti di dalam jagad pewayangan.
Buku
atau kitab karya Empu Kanwa ini tak sekadar berkisah tentang kisah
percintaan Arjuna dengan Dewi Supraba. Tapi kitab ini telah menguraikan
serangkaian pedoman kehidupan yang semestinya dijadikan pedoman atau pegangan
bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Arjuna Wiwaha telah
memberikan pelajaran kehidupan yang sangat berharga, bahwa hidup adalah
sesuatu yang penuh tantangan. Keberhasilan dalam hidup adalah
keberhasilan dalam mengalahkan tantangan itu.
Kresnayana
Kisah
cinta dari dulu hingga kini selalu menjadi sumber inspirasi bagi para
pujangga atau penulis dalam berkarya. Demikian pula dalam karya-karya
Jawa kuno, tidak sedikit yang bersumber atau terinspirasi dari
kisan-kisah percintaan.
“Kresnayana”
yang merupakan karya Empu Triguna berbentuk tembang ini seperti halnya
“Arjuna Wiwaha” juga berkisah tentang kisah cinta. Buku atau kitab yang
ditulis di masa akhir kekuasaan Prabu Warsajaya (1104) di Kerajaan
Kediri ini berkisah tentang kisah percintaan yang penuh liku antara Dewi
Rukmini dengan Prabu Kresna.
Dikisahkan
di buku ini, Prabu Bismaka yang merupakan raja di Kerajaan Kundina
menjodohkan puterinya, Dewi Rukmini, dengan Prabu Suniti, raja Kerajaan
Cedi. Tanpa terlebih dulu meminta persetujuan puterinya, Dewi Rukmini,
dan juga isterinya, Dewi Pretukirti, Prabu Bismaka langsung
menyelenggarakan acara pertunangan.
Dewi
Rukmini sesungguhnya tidak menyetujui langkah ayahnya itu. Karena ia
sudah punya pilihan hati sendiri, yakni Prabu Kresna. Pilihan Dewi
Rukmini ternyata mendapat dukungan ibunya, Dewi Pretukirti. Lantas kedua
ibu dan anak ini pun menyusun rencana untuk menggagalkan rencana sang
ayah.
Walaupun
mendapat penolakan, Prabu Bismaka tetap bertekad melaksanakan niatnya
untuk menyelenggarakan acara pernikahan puterinya dengan Prabu Suniti.
Acara perkawinan yang megah dan meriah pun disiapkan. Segenap kawula
istana disibukkan dengan aktivitas mempersiapkan perhelatan akbar
tersebut.
Tetapi
ketika perhelatan besar itu akan dimulai, dan rombongan mempelai
lelaki, Prabu Suniti sudah hampir sampai di gerbang istana, kegemparan
pun terjadi. Sang mempelai perempuan, Dewi Rukmini mendadak lenyap dari
dalam Keputren. Ternyata, sebelum semuanya sempat terjadi, Prabu Kresna
terlebih dulu melakukan aksinya. Dengan bantuan Dewi Pretukirti dan Dewi
Rukmini sendiri, Prabu Kresna menyelinap ke dalam Keputren dan kemudian
membawa lari sang puteri.
Pesan
apa yang sesungguhnya disampaikan Empu Triguna lewat “Kresnayana”?
Secara sederhana saja, kitab ini memberikan pesan bahwa cinta bukanlah
sesuatu yang dapat dipaksakan. Kekuasaan yang seperti apa pun kuat dan
kokohnya, tak akan dapat mengalahkan atau merobohkan benteng cinta yang
tulus dan suci. Selain itu, tindakan memaksakan kehendak bukanlah
sesuatu yang bijak. Memaksakan kehendak adalah tindakan yang tak
terpuji. Para orangtua seharusnya menghormati hak dan pilihan anaknya.
Memaksakan keinginan kepada anak, bisa jadi memunculkan sikap perlawanan
dari sang anak itu sendiri.
Sumber : http://ekardhana.blogspot.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar